Aktivis tanpa Literasi


Buku menjadi nutrisi wajib bagi segenap mahasiswa, terkhusus yang menyandang gelar aktivis. Ladang informasi yang nantinya diserap sebagai modal analisis keadaan sekitar bagi seorang mahasiswa. Sudah menjadi pemandangan biasa, para mahasiswa yang kesehariannya tidak luput dengan membaca, menulis dan diskusi. Sebuah kultur yang tidak bisa dipisahkan bagi seorang mahasiswa. Tetapi hal itu hanya sebagaian kecil dari sejarah mahasiswa sebelum reformasi. Sangat jarang pemandangan seperti itu terjadi saat ini. Tidak heran, karena aktivitas seperti itu dirasa bukan lagi prioritas utama bagi seorang mahasiswa.                  Mahasiswa seakan terlelap dengan zona nyaman yang serba mudah dan instan. Perkembangan teknologi masuk ke dalam berbagai bidang tidak terkecuali dunia pendidikan. E-book (electronic book) sebagai bentuk penetrasi teknologi dirasa tidak  mampu menunjang fasilitas lebih dalam melestarikan budaya literasi. Riset terakhir yang dilakukan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 2016, penjualan e-book di Indonesia masih rendah, dengan rata-rata yang diunduh adalah e-book gratis. Tidak berbeda, penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2018 menyatakan 26 persen orang Amerika telah membaca 1 e-book dalam 1 tahun terakhir. Lebih sedikit dibandingkan pembaca buku cetak dengan presentase 64 persen.                  Banyak faktor yang mempengaruhi daya baca e-book saat ini. Romantisme lembaran- lembaran kertas memang nyata menjadi ciri khas yang tidak bisa didapat dari e-book. Dari hal itu pula, muncul rasa nyaman sehingga para pembaca seakan terlelap dalam romansa buku cetak. Walaupun berjam-jam terlewatkan, rasa bosan seketika hilang jika sudah bercumbu dengan buku. Terlepas dari itu semua, hegemoni budaya yang kental dengan sifat hedon dan pragmatis membuat mahasiswa tidak sadar bahkan lupa sejarahnya sendiri termasuk membaca buku.      Pendekar Pena tanpa Penerus              Julukan pendekar pena disematkan kepada salah satu pendiri PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) juga sebagai ketua umum pertama pengurus besar PMII yakni Mahbub Djunaidi. Mulai dari menulis di surat kabar lokal hingga menjadikan tulisan sebagai kritikan pedas bagi  kinerja pemerintah pada waktu itu. Gaya tulisan beliau yang penuh satire tapi kental akan perlawanan dan dibungkus dengan humor praktis membuat berbagai kalangan cepat memahami substansinya. Catatan sejarah juga membuktikan bahwa beliau banyak berkontribusi dalam gejolak politik saat itu. Pada tahun 1978 beliau ditangkap dan dikurung di penjara bersama Bung Tomo dengan alasan subversif. Aktif dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan ketatanegaraan membuat Mahbub menjadi ancaman pada waktu itu.      Sosok sederhana tapi bersahaja membuat Mahbub  seakan tidak luntur dari tinta sejarah sampai saat ini. Karir kepenulisan beliau dimulai dari bangku SMP. Berbagai karyanya seperti esai, artikel, buku, novel mewarnai dunia kepenulisan pada waktu itu. Mahbub lebih banyak menorehkan sikap politiknya lewat tulisan, walaupun beberapa kali mendapatkan tawaran jabatan di beberapa jajaran pemerintahan, beliau lebih memilih mendedikasikan diri dalam dunia kepenulisan. Karya- karyanya masih populer dan banyak digunakan referensi dalam memotivasi diri khususnya mahasiswa.      Walaupun banyak dari mahasiswa menjadikan Mahbub sebagai figur yang identik dengan perlawanan, budaya literasi yang dibawa beliau justru tidak terlalu banyak dijadikan percontohan. Entah apa yang merasuki mahasiswa. Segala kemudahan dalam mencari sumber informasi tidak menjadi terobosan yang membuat semangat literasi tumbuh dibanding sebelumnya.      Menjadi Besar lewat Literasi              Pengarang ”Das Kapitalis”, Karl Marx memiliki kebiasaan berjam-jam hanya untuk membaca buku. Lewat itu pula faham Marxsisme muncul dan sampai sekarang masih digandrungi beragam pihak sebagai referensi dan asupan pengetahuan dalam gejolak politik revolusi. Salah satu sosok yang menjadikan buku sebagai lorong-lorong menuju pengetahuan serta keilmuan.        Berangkat dari latar belakang pesantren, sosok bernama Abdurrahman Wahid muncul dengan gagasan kebangsaan, pluralisme hingga humanisme. Tidak jauh dengan Marx, beliau juga sosok penikmat buku ulung serta tekun. Mulai mengeksplore kajian-kajian keagamaan serta filsafat saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Wacana kiri pun tidak luput dari penglihatannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi beliau untuk menyelesaikan buku “Das Kapitalis”  Marx yang jumlahnya sampai berjilid-jilid itu. Figur yang kental dengan kehidupan religius sebagai santri, tetapi juga kian menggandrungi keilmuan serta pengetahuan dunia lewat buku.        Berbeda dengan yang lain, KH. Muhammad Sahal Mahfudh membungkus dakwah keagaman lewat literasi. Sebagai contoh, “Fiqh Sosial” yang dibawa oleh Kyai Sahal mencoba mensandingkan kaidah fiqih dengan konteks yang relevan dengan sekarang. Aktivitas beliau tak luput dari Muthola’ah kitab serta aktif dalam menulis. Kebiasaan beliau itu memang bersumber dari tradisi membaca yang kuat. Jerih payah tersebut beliau tuangkan dalam literasi sebagai bentuk aktualisasi dan kontekstualisasi, khususnya pada kitab kuning. Produktivitas beliau dalam literasi membuahkan beberapa karya masyhur seperti Al-Bayan al-Mulamma’ an-Alafazh al-Luma’, Al-Tsamaratu al-Hajeniah, Al-Faraid al-Ajibah, Nuansa Fiqih Sosial, Wajah Baru Fiqih Pesantren dsb. Hal itu semua beliau dedikasikan agar mempunyai manfaat bagi masyarakat dan bangsa.           Karl Max , Gus Dur, Kyai Sahal merupakan segelintir representasi cahaya keilmuan lewat buku. Lewat buku juga sosok seperti Tan Malaka, Soekarno, Bung Hatta serta Mahbub dapat memantik api semangat perjuangan pada waktu itu. Walaupun umur memiliki batas, tetapi karya- karya serta kontribusi mereka akan abadi dan akan terus dilestarikan sampai generasi yang akan datang.      Pemuda tanpa Literasi, bisa apa ?                     Meminjam kutipan dari Jorge Luis Borges, "buku adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi". Sejarah, pengetahuan, keilmuan, bahkan goresan tinta keresahaan seorang anak perempuan tersaji dalam buku. Disamping memiliki manfaat yang luar biasa, buku juga bisa menjadi ancaman serius bagi sistem kekuasaan yang ada. Jika Anne Frank tidak menulis buku diary sebagai perwujudan dari situasi kelam yang ia alami saat perang dunia II, apakah dunia bisa ikut merasakan kekejian yang dilakukan Nazi pada peristiwa holocaust kala itu ?. Apakah gagasan "Das Kapitalis " dan Marxsisme bisa muncul jika karya- karya Marx dihanguskan pada waktu itu?. Patut bersyukur jika buku- buku masih menjadi ingatan abadi yang dapat dikaji di kemudian hari. Reformasi menjadi contoh kecil makna buku sehingga aktivis mahasiswa pada akhirnya dapat melengserkan kekejaman orde baru.                     Bukan waktunya lagi menjadikan buku sebagai pemuas hasrat semata, tetapi bagaimana cara agar buku bisa menjadi nutrisi intelektualitas mahasiswa. Apa yang bisa diharapkan bagi mahasiswa yang buta literasi. Hal yang lebih penting yaitu umur sebuah buku. Buku seketika bisa hilang besok ataupun lusa, entah karena rusaknya pepohonan, pelarangan beredarnya buku, peristiwa layaknya bibliosida, pencatatan sejarah yang menyimpang, isu paperless society dsb. Sejatinya buku adalah warna yang dapat menghiasi sebuah peradaban. Tergantung bagaimana generasi bangsa bisa menghargai makna dari buku itu sendiri.                     Tidak dipungkiri bahwa buku menjadi fasilitas yang mewarnai intelektualitas generasi bangsa. Pada akhirnya hal itu pula yang akan berpengaruh pada wawasan kebangsaan serta ketatanegaraan nasional maupum intenasional. Menjadi penting untuk bisa meneladani dan menjadikan percontohan berbagai tokoh literasi dalam mengeksplore keilmuan. Ghiroh gerakan mahasiswa secara otomatis akan muncul lewat intensitas literasi yang luas. Pada intinya pentingnya literasi ada pada keilmuan dan pengetahuan yang ada. Dengan itu, pola fikir maju bisa terbentuk, sehingga cita-cita mahasiswa terkhusus para aktivis pergerakan dapat mulai terwujud kembali.
Aktivis tanpa Literasi

            Buku menjadi nutrisi wajib bagi segenap mahasiswa, terkhusus yang menyandang gelar aktivis. Ladang informasi yang nantinya diserap sebagai modal analisis keadaan sekitar bagi seorang mahasiswa. Sudah menjadi pemandangan biasa, para mahasiswa yang kesehariannya tidak luput dengan membaca, menulis dan diskusi. Sebuah kultur yang tidak bisa dipisahkan bagi seorang mahasiswa. Tetapi hal itu hanya sebagaian kecil dari sejarah mahasiswa sebelum reformasi. Sangat jarang pemandangan seperti itu terjadi saat ini. Tidak heran, karena aktivitas seperti itu dirasa bukan lagi prioritas utama bagi seorang mahasiswa.


            Mahasiswa seakan terlelap dengan zona nyaman yang serba mudah dan instan. Perkembangan teknologi masuk ke dalam berbagai bidang tidak terkecuali dunia pendidikan. E-book (electronic book) sebagai bentuk penetrasi teknologi dirasa tidak  mampu menunjang fasilitas lebih dalam melestarikan budaya literasi. Riset terakhir yang dilakukan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 2016, penjualan e-book di Indonesia masih rendah, dengan rata-rata yang diunduh adalah e-book gratis. Tidak berbeda, penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2018 menyatakan 26 persen orang Amerika telah membaca 1 e-book dalam 1 tahun terakhir. Lebih sedikit dibandingkan pembaca buku cetak dengan presentase 64 persen.


            Banyak faktor yang mempengaruhi daya baca e-book saat ini. Romantisme lembaran- lembaran kertas memang nyata menjadi ciri khas yang tidak bisa didapat dari e-book. Dari hal itu pula, muncul rasa nyaman sehingga para pembaca seakan terlelap dalam romansa buku cetak. Walaupun berjam-jam terlewatkan, rasa bosan seketika hilang jika sudah bercumbu dengan buku. Terlepas dari itu semua, hegemoni budaya yang kental dengan sifat hedon dan pragmatis membuat mahasiswa tidak sadar bahkan lupa sejarahnya sendiri termasuk membaca buku.


Pendekar Pena tanpa Penerus
            Julukan pendekar pena disematkan kepada salah satu pendiri PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) juga sebagai ketua umum pertama pengurus besar PMII yakni Mahbub Djunaidi. Mulai dari menulis di surat kabar lokal hingga menjadikan tulisan sebagai kritikan pedas bagi  kinerja pemerintah pada waktu itu. Gaya tulisan beliau yang penuh satire tapi kental akan perlawanan dan dibungkus dengan humor praktis membuat berbagai kalangan cepat memahami substansinya. Catatan sejarah juga membuktikan bahwa beliau banyak berkontribusi dalam gejolak politik saat itu. Pada tahun 1978 beliau ditangkap dan dikurung di penjara bersama Bung Tomo dengan alasan subversif. Aktif dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan ketatanegaraan membuat Mahbub menjadi ancaman pada waktu itu.


Sosok sederhana tapi bersahaja membuat Mahbub  seakan tidak luntur dari tinta sejarah sampai saat ini. Karir kepenulisan beliau dimulai dari bangku SMP. Berbagai karyanya seperti esai, artikel, buku, novel mewarnai dunia kepenulisan pada waktu itu. Mahbub lebih banyak menorehkan sikap politiknya lewat tulisan, walaupun beberapa kali mendapatkan tawaran jabatan di beberapa jajaran pemerintahan, beliau lebih memilih mendedikasikan diri dalam dunia kepenulisan. Karya- karyanya masih populer dan banyak digunakan referensi dalam memotivasi diri khususnya mahasiswa.


Walaupun banyak dari mahasiswa menjadikan Mahbub sebagai figur yang identik dengan perlawanan, budaya literasi yang dibawa beliau justru tidak terlalu banyak dijadikan percontohan. Entah apa yang merasuki mahasiswa. Segala kemudahan dalam mencari sumber informasi tidak menjadi terobosan yang membuat semangat literasi tumbuh dibanding sebelumnya.


Menjadi Besar lewat Literasi
            Pengarang ”Das Kapitalis”, Karl Marx memiliki kebiasaan berjam-jam hanya untuk membaca buku. Lewat itu pula faham Marxsisme muncul dan sampai sekarang masih digandrungi beragam pihak sebagai referensi dan asupan pengetahuan dalam gejolak politik revolusi. Salah satu sosok yang menjadikan buku sebagai lorong-lorong menuju pengetahuan serta keilmuan.


  Berangkat dari latar belakang pesantren, sosok bernama Abdurrahman Wahid muncul dengan gagasan kebangsaan, pluralisme hingga humanisme. Tidak jauh dengan Marx, beliau juga sosok penikmat buku ulung serta tekun. Mulai mengeksplore kajian-kajian keagamaan serta filsafat saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Wacana kiri pun tidak luput dari penglihatannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi beliau untuk menyelesaikan buku “Das Kapitalis”  Marx yang jumlahnya sampai berjilid-jilid itu. Figur yang kental dengan kehidupan religius sebagai santri, tetapi juga kian menggandrungi keilmuan serta pengetahuan dunia lewat buku.


  Berbeda dengan yang lain, KH. Muhammad Sahal Mahfudh membungkus dakwah keagaman lewat literasi. Sebagai contoh, “Fiqh Sosial” yang dibawa oleh Kyai Sahal mencoba mensandingkan kaidah fiqih dengan konteks yang relevan dengan sekarang. Aktivitas beliau tak luput dari Muthola’ah kitab serta aktif dalam menulis. Kebiasaan beliau itu memang bersumber dari tradisi membaca yang kuat. Jerih payah tersebut beliau tuangkan dalam literasi sebagai bentuk aktualisasi dan kontekstualisasi, khususnya pada kitab kuning. Produktivitas beliau dalam literasi membuahkan beberapa karya masyhur seperti Al-Bayan al-Mulamma’ an-Alafazh al-Luma’, Al-Tsamaratu al-Hajeniah, Al-Faraid al-Ajibah, Nuansa Fiqih Sosial, Wajah Baru Fiqih Pesantren dsb. Hal itu semua beliau dedikasikan agar mempunyai manfaat bagi masyarakat dan bangsa.


     Karl Max , Gus Dur, Kyai Sahal merupakan segelintir representasi cahaya keilmuan lewat buku. Lewat buku juga sosok seperti Tan Malaka, Soekarno, Bung Hatta serta Mahbub dapat memantik api semangat perjuangan pada waktu itu. Walaupun umur memiliki batas, tetapi karya- karya serta kontribusi mereka akan abadi dan akan terus dilestarikan sampai generasi yang akan datang.


Pemuda tanpa Literasi, bisa apa ?
                   Meminjam kutipan dari Jorge Luis Borges, "buku adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi". Sejarah, pengetahuan, keilmuan, bahkan goresan tinta keresahaan seorang anak perempuan tersaji dalam buku. Disamping memiliki manfaat yang luar biasa, buku juga bisa menjadi ancaman serius bagi sistem kekuasaan yang ada. Jika Anne Frank tidak menulis buku diary sebagai perwujudan dari situasi kelam yang ia alami saat perang dunia II, apakah dunia bisa ikut merasakan kekejian yang dilakukan Nazi pada peristiwa holocaust kala itu ?. Apakah gagasan "Das Kapitalis " dan Marxsisme bisa muncul jika karya- karya Marx dihanguskan pada waktu itu?. Patut bersyukur jika buku- buku masih menjadi ingatan abadi yang dapat dikaji di kemudian hari. Reformasi menjadi contoh kecil makna buku sehingga aktivis mahasiswa pada akhirnya dapat melengserkan kekejaman orde baru.

                 Bukan waktunya lagi menjadikan buku sebagai pemuas hasrat semata, tetapi bagaimana cara agar buku bisa menjadi nutrisi intelektualitas mahasiswa. Apa yang bisa diharapkan bagi mahasiswa yang buta literasi. Hal yang lebih penting yaitu umur sebuah buku. Buku seketika bisa hilang besok ataupun lusa, entah karena rusaknya pepohonan, pelarangan beredarnya buku, peristiwa layaknya bibliosida, pencatatan sejarah yang menyimpang, isu paperless society dsb. Sejatinya buku adalah warna yang dapat menghiasi sebuah peradaban. Tergantung bagaimana generasi bangsa bisa menghargai makna dari buku itu sendiri.

                 Tidak dipungkiri bahwa buku menjadi fasilitas yang mewarnai intelektualitas generasi bangsa. Pada akhirnya hal itu pula yang akan berpengaruh pada wawasan kebangsaan serta ketatanegaraan nasional maupum intenasional. Menjadi penting untuk bisa meneladani dan menjadikan percontohan berbagai tokoh literasi dalam mengeksplore keilmuan. Ghiroh gerakan mahasiswa secara otomatis akan muncul lewat intensitas literasi yang luas. Pada intinya pentingnya literasi ada pada keilmuan dan pengetahuan yang ada. Dengan itu, pola fikir maju bisa terbentuk, sehingga cita-cita mahasiswa terkhusus para aktivis pergerakan dapat mulai terwujud kembali.



(Ditulis oleh Sahabat Ilham Sofyan -Koordinator Biro Pendidikan dan Pengkaderan PMII Rashul) 




Baca juga :

SEJARAH PMII

Hari Santri Nasional PMII Rashul; Pemimpin Ideal adalah Santri

COMMENTS

Name

Agenda,4,Artikel,47,Download,1,Kajian,14,Lagu-Lagu PMII,7,MAPABA 2019,1,masalah wanita dalam fiqih,1,Opini,1,PMII,1,Pustaka,5,Resensi,1,Siapa itu PC PMII Semarang Raya ???,1,Twibbon PMII,1,wanita muslim,1,Warta,9,
ltr
item
PMII RASHUL: Aktivis tanpa Literasi
Aktivis tanpa Literasi
Buku menjadi nutrisi wajib bagi segenap mahasiswa, terkhusus yang menyandang gelar aktivis. Ladang informasi yang nantinya diserap sebagai modal analisis keadaan sekitar bagi seorang mahasiswa. Sudah menjadi pemandangan biasa, para mahasiswa yang kesehariannya tidak luput dengan membaca, menulis dan diskusi. Sebuah kultur yang tidak bisa dipisahkan bagi seorang mahasiswa. Tetapi hal itu hanya sebagaian kecil dari sejarah mahasiswa sebelum reformasi. Sangat jarang pemandangan seperti itu terjadi saat ini. Tidak heran, karena aktivitas seperti itu dirasa bukan lagi prioritas utama bagi seorang mahasiswa. Mahasiswa seakan terlelap dengan zona nyaman yang serba mudah dan instan. Perkembangan teknologi masuk ke dalam berbagai bidang tidak terkecuali dunia pendidikan. E-book (electronic book) sebagai bentuk penetrasi teknologi dirasa tidak mampu menunjang fasilitas lebih dalam melestarikan budaya literasi. Riset terakhir yang dilakukan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 2016, penjualan e-book di Indonesia masih rendah, dengan rata-rata yang diunduh adalah e-book gratis. Tidak berbeda, penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2018 menyatakan 26 persen orang Amerika telah membaca 1 e-book dalam 1 tahun terakhir. Lebih sedikit dibandingkan pembaca buku cetak dengan presentase 64 persen. Banyak faktor yang mempengaruhi daya baca e-book saat ini. Romantisme lembaran- lembaran kertas memang nyata menjadi ciri khas yang tidak bisa didapat dari e-book. Dari hal itu pula, muncul rasa nyaman sehingga para pembaca seakan terlelap dalam romansa buku cetak. Walaupun berjam-jam terlewatkan, rasa bosan seketika hilang jika sudah bercumbu dengan buku. Terlepas dari itu semua, hegemoni budaya yang kental dengan sifat hedon dan pragmatis membuat mahasiswa tidak sadar bahkan lupa sejarahnya sendiri termasuk membaca buku. Pendekar Pena tanpa Penerus Julukan pendekar pena disematkan kepada salah satu pendiri PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) juga sebagai ketua umum pertama pengurus besar PMII yakni Mahbub Djunaidi. Mulai dari menulis di surat kabar lokal hingga menjadikan tulisan sebagai kritikan pedas bagi kinerja pemerintah pada waktu itu. Gaya tulisan beliau yang penuh satire tapi kental akan perlawanan dan dibungkus dengan humor praktis membuat berbagai kalangan cepat memahami substansinya. Catatan sejarah juga membuktikan bahwa beliau banyak berkontribusi dalam gejolak politik saat itu. Pada tahun 1978 beliau ditangkap dan dikurung di penjara bersama Bung Tomo dengan alasan subversif. Aktif dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan ketatanegaraan membuat Mahbub menjadi ancaman pada waktu itu. Sosok sederhana tapi bersahaja membuat Mahbub seakan tidak luntur dari tinta sejarah sampai saat ini. Karir kepenulisan beliau dimulai dari bangku SMP. Berbagai karyanya seperti esai, artikel, buku, novel mewarnai dunia kepenulisan pada waktu itu. Mahbub lebih banyak menorehkan sikap politiknya lewat tulisan, walaupun beberapa kali mendapatkan tawaran jabatan di beberapa jajaran pemerintahan, beliau lebih memilih mendedikasikan diri dalam dunia kepenulisan. Karya- karyanya masih populer dan banyak digunakan referensi dalam memotivasi diri khususnya mahasiswa. Walaupun banyak dari mahasiswa menjadikan Mahbub sebagai figur yang identik dengan perlawanan, budaya literasi yang dibawa beliau justru tidak terlalu banyak dijadikan percontohan. Entah apa yang merasuki mahasiswa. Segala kemudahan dalam mencari sumber informasi tidak menjadi terobosan yang membuat semangat literasi tumbuh dibanding sebelumnya. Menjadi Besar lewat Literasi Pengarang ”Das Kapitalis”, Karl Marx memiliki kebiasaan berjam-jam hanya untuk membaca buku. Lewat itu pula faham Marxsisme muncul dan sampai sekarang masih digandrungi beragam pihak sebagai referensi dan asupan pengetahuan dalam gejolak politik revolusi. Salah satu sosok yang menjadikan buku sebagai lorong-lorong menuju pengetahuan serta keilmuan. Berangkat dari latar belakang pesantren, sosok bernama Abdurrahman Wahid muncul dengan gagasan kebangsaan, pluralisme hingga humanisme. Tidak jauh dengan Marx, beliau juga sosok penikmat buku ulung serta tekun. Mulai mengeksplore kajian-kajian keagamaan serta filsafat saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Wacana kiri pun tidak luput dari penglihatannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi beliau untuk menyelesaikan buku “Das Kapitalis” Marx yang jumlahnya sampai berjilid-jilid itu. Figur yang kental dengan kehidupan religius sebagai santri, tetapi juga kian menggandrungi keilmuan serta pengetahuan dunia lewat buku. Berbeda dengan yang lain, KH. Muhammad Sahal Mahfudh membungkus dakwah keagaman lewat literasi. Sebagai contoh, “Fiqh Sosial” yang dibawa oleh Kyai Sahal mencoba mensandingkan kaidah fiqih dengan konteks yang relevan dengan sekarang. Aktivitas beliau tak luput dari Muthola’ah kitab serta aktif dalam menulis. Kebiasaan beliau itu memang bersumber dari tradisi membaca yang kuat. Jerih payah tersebut beliau tuangkan dalam literasi sebagai bentuk aktualisasi dan kontekstualisasi, khususnya pada kitab kuning. Produktivitas beliau dalam literasi membuahkan beberapa karya masyhur seperti Al-Bayan al-Mulamma’ an-Alafazh al-Luma’, Al-Tsamaratu al-Hajeniah, Al-Faraid al-Ajibah, Nuansa Fiqih Sosial, Wajah Baru Fiqih Pesantren dsb. Hal itu semua beliau dedikasikan agar mempunyai manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Karl Max , Gus Dur, Kyai Sahal merupakan segelintir representasi cahaya keilmuan lewat buku. Lewat buku juga sosok seperti Tan Malaka, Soekarno, Bung Hatta serta Mahbub dapat memantik api semangat perjuangan pada waktu itu. Walaupun umur memiliki batas, tetapi karya- karya serta kontribusi mereka akan abadi dan akan terus dilestarikan sampai generasi yang akan datang. Pemuda tanpa Literasi, bisa apa ? Meminjam kutipan dari Jorge Luis Borges, " buku adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi ". Sejarah, pengetahuan, keilmuan, bahkan goresan tinta keresahaan seorang anak perempuan tersaji dalam buku. Disamping memiliki manfaat yang luar biasa, buku juga bisa menjadi ancaman serius bagi sistem kekuasaan yang ada. Jika Anne Frank tidak menulis buku diary sebagai perwujudan dari situasi kelam yang ia alami saat perang dunia II, apakah dunia bisa ikut merasakan kekejian yang dilakukan Nazi pada peristiwa holocaust kala itu ?. Apakah gagasan "Das Kapitalis " dan Marxsisme bisa muncul jika karya- karya Marx dihanguskan pada waktu itu?. Patut bersyukur jika buku- buku masih menjadi ingatan abadi yang dapat dikaji di kemudian hari. Reformasi menjadi contoh kecil makna buku sehingga aktivis mahasiswa pada akhirnya dapat melengserkan kekejaman orde baru. Bukan waktunya lagi menjadikan buku sebagai pemuas hasrat semata, tetapi bagaimana cara agar buku bisa menjadi nutrisi intelektualitas mahasiswa. Apa yang bisa diharapkan bagi mahasiswa yang buta literasi. Hal yang lebih penting yaitu umur sebuah buku. Buku seketika bisa hilang besok ataupun lusa, entah karena rusaknya pepohonan, pelarangan beredarnya buku, peristiwa layaknya bibliosida, pencatatan sejarah yang menyimpang, isu paperless society dsb. Sejatinya buku adalah warna yang dapat menghiasi sebuah peradaban. Tergantung bagaimana generasi bangsa bisa menghargai makna dari buku itu sendiri. Tidak dipungkiri bahwa buku menjadi fasilitas yang mewarnai intelektualitas generasi bangsa. Pada akhirnya hal itu pula yang akan berpengaruh pada wawasan kebangsaan serta ketatanegaraan nasional maupum intenasional. Menjadi penting untuk bisa meneladani dan menjadikan percontohan berbagai tokoh literasi dalam mengeksplore keilmuan. Ghiroh gerakan mahasiswa secara otomatis akan muncul lewat intensitas literasi yang luas. Pada intinya pentingnya literasi ada pada keilmuan dan pengetahuan yang ada. Dengan itu, pola fikir maju bisa terbentuk, sehingga cita-cita mahasiswa terkhusus para aktivis pergerakan dapat mulai terwujud kembali.
https://1.bp.blogspot.com/-NaCRTGXNTPs/XbN4PiMuryI/AAAAAAAABNA/4LjdJc7RmFsxB4KWpcT3QzpA5Frfua6TACLcBGAsYHQ/s320/20191026_052942_0000.png
https://1.bp.blogspot.com/-NaCRTGXNTPs/XbN4PiMuryI/AAAAAAAABNA/4LjdJc7RmFsxB4KWpcT3QzpA5Frfua6TACLcBGAsYHQ/s72-c/20191026_052942_0000.png
PMII RASHUL
http://www.pmiirashul.or.id/2019/10/aktivis-tanpa-literasi.html
http://www.pmiirashul.or.id/
http://www.pmiirashul.or.id/
http://www.pmiirashul.or.id/2019/10/aktivis-tanpa-literasi.html
true
493703147680904197
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy