![]() |
| Sumber : NU Online |
Kalau kita ngomongin Harlah ke-66 PMII, jujur bagiku ini bukan cuma soal “tambah umur”, tapi momen buat nanya ke diri kita sendiri: kita ini masih benar-benar bergerak, atau cuma kelihatan bergerak?
PMII itu lahir dari kegelisahan. Dari situasi bangsa yang nggak baik-baik saja, dari kebutuhan mahasiswa Islam untuk punya ruang berpikir sekaligus bertindak. Jadi sejak awal, “pergerakan” itu bukan nama keren doang tapi identitas.
Nah, di umur yang ke- 66 ini, harusnya kita udah bukan lagi kayak fase remaja yang lagi cari jati diri. Harusnya sudah punya visi yang jelas, mau dibawa ke mana arah gerakan kita hari ini.Tapi realitanya hari ini agak bikin mikir. Di tengah kondisi Indonesia yang penuh tantangan ketimpangan sosial, isu lingkungan, politik yang makin kompleks peran mahasiswa itu justru makin penting. Termasuk juga seorang kader PMII.
Masalahnya, muncul pertanyaan yang cukup sensitif:
PMII hari ini masih se-dekat dulu nggak dengan rakyat kecil? Atau malah lebih dekat ke lingkar kekuasaan?
Bukan berarti dekat dengan kekuasaan itu salah. Tapi yang sering jadi masalah adalah ketika jarak kritis itu hilang. Dulu kita bangga jadi kelompok yang berani kritik, sekarang kadang malah terlalu hati-hati atau bahkan diam melihat sesuatu yang salah. Nah, di titik ini, kita perlu jujur, jangan-jangan kita mulai nyaman, atau bahkan sudah tak ingat apa alasan dulu kita untuk bergerak?
Tema “aksi nyata untuk Indonesia” di Harlah ke-66 ini sebenarnya keren. Tapi juga sekaligus “tamparan halus”. Karena artinya ada kesadaran, kita nggak bisa terus-terusan berhenti di diskusi, forum, atau jargon intelektual. Harus ada dampak nyata.
Tapi di sisi lain, aksi juga nggak boleh asal gerak. Kalau kehilangan basis intelektual, ya jadinya cuma aktivisme sesaat yang rame di awal, hilang di tengah jalan. Jadi PR besar PMII hari ini menurutku ada di sini, gimana caranya kader PMII hari ini tetap tajam secara pemikiran, tapi juga nyata dalam tindakan.
Karena pada akhirnya, posisi PMII itu harus jelas. Dia nggak harus selalu berseberangan dengan kekuasaan, tapi juga nggak boleh larut di dalamnya. Tetap harus punya sikap berdiri di tengah, tapi condong kepada keadilan rakyat.
Jadi, Harlah ke-66 ini harusnya bukan sekadar selebrasi. Tapi momen buat “reset arah”. Balik lagi ke khittah awal, sesuai dengan tiga motto yang kita punya ; dzikir, fikir amal soleh. Jangan sampai dzikir hilang karena terlalu sibuk jabatan, fikir tumpul karena terlalu nyaman dengan kekuasaan kampus, dan amal saleh berhenti jadi slogan di spanduk harlah saja.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan hari ini bukan cuma kader yang bisa menjaga struktur dan menjaga pengkaderisasian berjalan baik saja, tetapi kader yang tetap gelisah, tetap berpikir, dan tetap mau bergerak.
Selamat Harlah ke-66, PMII-ku
Dari kadermu yang masih banyak belajar dan masih terus berproses, terima kasih sudah jadi ruang tempat belajar gelisah, belajar berpikir, dan belajar melangkah.
Terus tumbuh subur rumah pergerakan ku…
Salam Pergerakan ✊✊💙💛
[ Sahabat Banyu ]
