Ketika Penyambutan Mahasiswa Baru Kehilangan Maknanya

 

Sumber : Instagram @pmiirashul



Setiap kampus memiliki ritual yang hampir sama setiap tahunnya. Mahasiswa baru datang dengan membawa banyak keraguan dan kebingungan. Lingkungan baru, orang-orang baru, hingga berbagai rangkaian kegiatan yang belum mereka pahami membuat mereka membutuhkan seseorang untuk menunjukkan arah.

Di titik inilah kakak tingkat melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan atau HMJ seharusnya hadir. Bukan sekadar menjalankan formalitas penyambutan, melainkan menjadi orang pertama yang membuat mahasiswa baru merasa memiliki tempat di lingkungan barunya.

Namun, pada pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik atau PBAK Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, Rabu, 12 Agustus 2026, penyambutan itu belum sepenuhnya terasa seperti yang seharusnya.

 

Stand Dibuka, Mahasiswa Baru Tetap Sendirian

Hari itu, mahasiswa baru FUHum menjalani sejumlah kegiatan seperti cek kesehatan, pengambilan jaket almamater, hingga foto Kartu Tanda Mahasiswa. Setiap HMJ juga membuka stand Sapa Maba. Tujuannya untuk mengenalkan jurusan sekaligus mendampingi mahasiswa baru yang masih berusaha memahami alur kegiatan.

Secara konsep, kegiatan tersebut terlihat baik. Namun di lapangan, sebagian besar stand hanya menjadi tempat untuk menunggu. Banyak anggota HMJ hanya duduk di stand masing-masing. Mahasiswa baru yang datang disambut, tetapi mereka yang terlihat bingung atau berdiri sendiri jarang dihampiri. Tidak banyak yang berinisiatif mendekat dan menawarkan bantuan.

Padahal, tidak semua mahasiswa baru memiliki keberanian yang sama. Ada yang mudah beradaptasi dan berani bertanya. Ada pula yang canggung, pendiam, atau merasa sungkan untuk lebih dulu menghampiri kakak tingkat.

Bagi mahasiswa baru seperti itu, sapaan sederhana bisa menjadi pengalaman pertama yang membuat mereka merasa diterima. Ketika stand hanya menjadi tempat duduk dan menunggu, makna Sapa Maba perlahan hilang. Stand memang ada, tetapi penyambutannya belum tentu benar-benar sampai kepada mahasiswa baru.

Pola ini perlu diubah dari menunggu menjadi menjemput. Setiap HMJ dapat membagi tugas agar selalu ada satu atau dua orang yang aktif berkeliling dan mendekati mahasiswa baru yang terlihat kebingungan atau sendirian. Kehadiran kakak tingkat tidak cukup hanya terlihat dari keberadaan stand.

 

Ketika Resitasi Justru Membingungkan

Persoalan lain terjadi saat pembayaran resitasi PBAK. Seorang mahasiswa baru perempuan datang membawa uang tunai, tetapi pembayaran tersebut tidak dapat diterima karena panitia hanya menerima transfer.

Mahasiswa baru itu tertahan cukup lama. Ia terlihat kebingungan dan tidak mengetahui harus meminta bantuan kepada siapa. Di saat seperti itu, pendampingan dari HMJ seharusnya dapat menjadi jalan pertama untuk membantu. Sebagai kakak tingkat yang kebetulan melihat kejadian tersebut, akhirnya saya menawarkan untuk membayarkan terlebih dahulu. Panitia kemudian mencatat identitas mahasiswa baru tersebut sebagai bukti pembayaran.

Persoalan itu sebenarnya dapat selesai dengan sedikit fleksibilitas. Jika sistem pembayaran memang harus melalui transfer, setidaknya perlu ada solusi bagi mahasiswa baru yang datang dengan membawa uang tunai.

Hal-hal kecil seperti ini bisa membentuk kesan yang besar. Ketika mahasiswa baru datang dan justru merasa dipersulit, berbagai penilaian terhadap panitia dapat muncul. Bahkan stigma bahwa pembayaran resitasi hanya menjadi cara untuk meminta uang dari mahasiswa baru dapat berkembang jika persoalan seperti ini tidak dijelaskan dan ditangani dengan baik.

PBAK seharusnya menjadi ruang untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi, bukan menambah kebingungan yang sebenarnya bisa dihindari.

 

Kesepakatan yang Tidak Dijaga

Sebelum kegiatan berlangsung, seluruh HMJ di FUHum telah sepakat membuka stand di satu lokasi. Tujuannya agar mahasiswa baru tidak bingung mencari stand jurusannya masing-masing. Namun, kesepakatan itu tidak bertahan lama. Dari enam HMJ, empat memilih membuka stand di lokasi yang berbeda dari tempat yang telah disepakati. Hanya dua HMJ yang tetap berada di lokasi awal.

Akibatnya terlihat saat sesi foto bersama seluruh mahasiswa baru FUHum. HMJ yang berada di lokasi berbeda membutuhkan waktu untuk kembali berkumpul meskipun telah dihubungi. Dua HMJ yang tetap berada di lokasi kesepakatan justru tidak sempat mengikuti foto bersama karena harus menunggu HMJ lain kembali. Keluhan dari mahasiswa baru pun muncul. Ada yang merasa tidak diajak mengikuti sesi foto bersama.

Persoalan ini sebenarnya bukan hanya tentang foto. Ada persoalan komitmen yang lebih besar di belakangnya. Kesepakatan dibuat untuk dijalankan bersama. Ketika masing-masing pihak memilih mengubahnya tanpa koordinasi, akibatnya akan dirasakan oleh banyak orang.

Kesepakatan lintas HMJ tidak cukup hanya ditulis di grup lalu selesai. Perlu ada penanggung jawab yang memastikan apa yang telah disepakati benar-benar dijalankan di lapangan. Koordinasi juga harus tetap dilakukan ketika ada perubahan. Komitmen tidak berhenti pada kata setuju sebelum kegiatan dimulai.

 

Menyambut Bukan Sekadar Berdiri di Stand

Dari berbagai kejadian tersebut, terlihat satu hal yang sama. Banyak kegiatan PBAK berjalan secara administratif, tetapi perlahan kehilangan makna di dalamnya. Stand Sapa Maba dibuka tetapi tidak selalu benar-benar menyapa. Kesepakatan lokasi dibuat tetapi tidak dijaga bersama. Sistem pembayaran ditetapkan tetapi penerapannya justru membuat mahasiswa baru kebingungan.

Semua rangkaian mungkin tetap terlaksana. Namun, inti dari penyambutan tidak hanya terletak pada terlaksananya kegiatan. PBAK bukan sekadar rangkaian acara dalam kalender akademik. PBAK menjadi salah satu pengalaman pertama mahasiswa dalam mengenal kampus, jurusan, dan organisasi kemahasiswaan.

Di masa awal itulah kesan mulai terbentuk. Mahasiswa baru belajar mengenali lingkungannya melalui cara mereka diperlakukan. Jika sejak awal mereka merasa tidak didampingi, dipersulit, atau diabaikan, pengalaman tersebut bisa menjadi kesan yang melekat cukup lama.

Rasa memiliki terhadap kampus juga tidak selalu tumbuh melalui slogan dan seremonial. Terkadang, rasa itu tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari kakak tingkat yang menghampiri mahasiswa baru yang terlihat kebingungan. Dari seseorang yang membantu tanpa menunggu diminta. Dari sikap yang membuat mereka merasa tidak sendirian di tempat baru.

Evaluasi setelah kegiatan juga perlu melihat pengalaman mahasiswa baru, bukan hanya persoalan teknis acara. Bukan sekadar memastikan seluruh rangkaian telah selesai, tetapi melihat bagaimana mereka menjalani hari-hari pertamanya sebagai bagian dari kampus.

Catatan ini tidak ditulis untuk menyalahkan satu pihak. Ini menjadi bahan refleksi bagi HMJ, panitia PBAK, dan siapa pun yang nantinya kembali terlibat dalam penyambutan mahasiswa baru.

Sebab menyambut tidak cukup dengan membuka stand dan menjalankan rangkaian kegiatan. Menyambut adalah memastikan seseorang yang datang ke lingkungan baru tidak dibiarkan menghadapi semuanya sendirian.

[Sahabat M.Sukron./ Kabid Kepenulisan Aprillo]

 

Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama