Diskusi Lentera Gender Bahas Stereotip dan Realitas Sosial di Masyarakat


 Semarang—Diskusi Lentera Gender mengangkat persoalan seks, gender, stereotip, dan realitas sosial dalam kehidupan masyarakat. Diskusi bertajuk “Cowok Harus Kuat, Cewek Harus Lembut? Membongkar Stereotip Gender dan Realitas Sosial” tersebut digelar pada Minggu (4/10/2026) pukul 19.30 WIB hingga selesai di Cafe Carsen, Semarang.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk memahami kembali perbedaan antara seks dan gender serta bagaimana keduanya dipahami dalam kehidupan sosial. Pembahasan diarahkan pada berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat mengenai peran laki-laki dan perempuan, termasuk stereotip bahwa laki-laki harus kuat dan perempuan harus lembut.

“Kita sering menganggap bahwa laki-laki harus kuat dan perempuan harus lembut sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya. Padahal, kita perlu bertanya kembali, apakah itu benar-benar berasal dari biologis atau justru terbentuk dari kebiasaan dan lingkungan sosial kita,” ujar Lulu Aprilia Agusti, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Selain membahas konsep dasar seks dan gender, diskusi turut mengangkat persoalan relasi gender dalam kehidupan sehari-hari serta berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan berbasis gender. Fenomena sosial yang berkembang di media sosial juga menjadi bagian dari pembahasan untuk melihat bagaimana isu seksualitas dan gender muncul dan diperdebatkan di ruang digital.

“Menurut saya, membicarakan gender bukan berarti sedang mempertentangkan laki-laki dan perempuan. Yang penting adalah bagaimana kita melihat apakah sebuah relasi dibangun secara setara, saling menghargai, atau justru ada dominasi dan kekerasan di dalamnya,” lanjut Lulu.

Diskusi tersebut juga mengajak peserta melihat berbagai fenomena sosial dari sejumlah perspektif norma, mulai dari norma agama, kesusilaan, sosial, hingga hukum. Dengan demikian, pembahasan tidak hanya berhenti pada pemahaman konsep, tetapi juga mendorong peserta untuk melihat bagaimana suatu fenomena dipahami dalam konteks masyarakat.

“Saya berharap setelah diskusi ini kita tidak hanya tahu istilah seks dan gender, tetapi juga lebih peka terhadap hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kehidupan kita. Kita bisa mulai bertanya, apakah sesuatu yang selama ini kita anggap biasa ternyata mengandung stereotip, kontrol, atau bahkan kekerasan,” ungkapnya.

Melalui Diskusi Lentera Gender, ruang dialog mengenai seks dan gender diharapkan dapat membuka perspektif yang lebih kritis terhadap berbagai stereotip dan persoalan sosial yang hadir di sekitar masyarakat.

[Kabid Kepenulisan Aprillo]


Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama