BPSAG Gelar Sekolah Advokasi, Perkuat Peran Mahasiswa dalam Advokasi Sosial





Gambar : Dokumentasi Acara




Badan Pengembangan Studi Advokasi dan Gender (BPSAG) menggelar kegiatan Sekolah Advokasi pada Jumat–Minggu (13–15/02/2026) bertempat di TPQ Nurul Huda, Gunungpati. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama yang tidak hanya diikuti oleh kader Rayon Ushuluddin, tetapi juga melibatkan peserta eksternal dari berbagai fakultas di lingkungan UIN Walisongo serta perwakilan mahasiswa dari UIN Pekalongan.


Acara secara resmi dibuka oleh Sahabat Yusrul Rizalul Muna sebagai perwakilan Komisariat PMII UIN Walisongo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sekolah advokasi menjadi upaya strategis untuk meningkatkan kapasitas kader PMII dalam menyuarakan aspirasi masyarakat serta memberikan pendampingan kepada kelompok-kelompok yang tertindas.


“Advokasi merupakan cara yang paling efektif untuk menyuarakan kaum yang tertindas,” tuturnya.


Mengangkat tema “Penguatan Peran Mahasiswa melalui Advokasi Sosial sebagai Praktik Membumikan Pengetahuan,” kegiatan ini menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Tema tersebut merefleksikan upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas masyarakat, sehingga ilmu yang dipelajari di ruang kelas tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi hadir nyata melalui praktik advokasi sosial. Mahasiswa dipandang memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk merespons persoalan sosial melalui langkah-langkah strategis dan solutif.


“Acara ini jika diikuti dengan seksama akan sangat berguna, terlebih lagi ketika peserta turun langsung ke lapangan,” ujar Yusrul saat membuka kegiatan.


Sementara itu, Ketua Panitia, Sahabati Tiara, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu mencetak kader yang kritis dan peka terhadap realitas sosial di sekitarnya.


“Kegiatan ini bertujuan membentuk kader PMII Ushuluddin Rayon yang berpikir kritis dan peka terhadap realitas sosial,” ujarnya.


“Kami ingin peserta tidak hanya memahami teori advokasi, tetapi juga siap menerapkannya ketika terjun langsung ke masyarakat,” tambah Tiara.


Selama tiga hari pelaksanaan, peserta dibekali berbagai materi penting sebagai fondasi dalam praktik advokasi, meliputi:


1. Dasar Umum Advokasi



2. Sistem Pemerintahan dan Kebijakan Publik



3. Analisis Sosial



4. Strategi dan Taktik Advokasi



5. Advokasi Berbasis Media




Melalui rangkaian materi tersebut, Sekolah Advokasi diharapkan mampu memperkuat kapasitas mahasiswa dalam membaca persoalan sosial, merancang strategi perubahan, serta memanfaatkan media sebagai alat perjuangan. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah konkret dalam membumikan pengetahuan melalui aksi nyata di tengah masyarakat.

Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama