Organisasi (PMII) Tidak Pernah Salah

 




Organisasi adalah wadah mahasiswa untuk berdialektika, memperkuat wacana, serta membentuk kader yang berintegritas. Begitu juga  dengan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) idealnya berlaku . Akan tetapi, ketika mahasiswa tidak mendapatkan semua itu, apakah organisasinya yang salah? Pengurusnya yang salah? Atau bahkan kader itu sendiri yang salah? Mari kita bahas.


Seorang mahasiswa baru datang ke kampus dengan antusias mencari pengalaman dan hal baru. Lalu, mahasiswa tersebut mengikuti organisasi ekstra kampus. Satu bulan berada di dalam organisasi, ia masih semangat mengikuti kegiatan. Enam bulan kemudian, ia mulai jarang hadir dalam kegiatan. Satu tahun berada di organisasi, rasa antusiasnya mulai hilang dengan berbagai alasan hingga akhirnya melepaskan tanggung jawabnya sebagai kader.


Kadang, ketika menjadi kader, mereka masih bingung: “Organisasi ini arahnya mau ke mana? Aku di organisasi ini sedang melakukan apa?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat mereka perlahan menjauh. Padahal, pengurus telah menjalankan tanggung jawabnya dengan mengajak mereka mengikuti kegiatan dan membimbing mereka. Lalu sebenarnya, ini salah siapa?


Pengurus organisasi memiliki tanggung jawab yang besar. Apa yang mereka jalankan merupakan bentuk pengabdian untuk membangun organisasi menjadi lebih baik. Namun, mengapa dalam kepengurusan yang aktif dan penuh kegiatan, orang yang terlibat hanya orang yang sama? Apakah mereka telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai pengurus? Padahal, ketika masuk PMII, mereka telah berikrar "tidak meninggalkan PMII dalam kondisi apa pun". Namun, mengapa ikrar itu sering dilupakan?


Kadang, ada pula pengurus atau kader yang menyalahkan organisasi karena merasa tidak mendapatkan apa-apa dari PMII. Padahal, mereka sendiri tidak berkontribusi dan bersikap apatis terhadap organisasi. Ironisnya, justru mereka yang paling keras berteriak menyalahkan PMII. Maka, sekali lagi, ini salah siapa?


Di sisi lain, organisasi juga tidak boleh hanya menjadi ruang formalitas yang dipenuhi rapat, agenda, dan seremonial tanpa arah kaderisasi yang jelas. Banyak kader bertahan bukan karena program yang megah, tetapi karena merasa dihargai, didengarkan, dan dipeluk dalam prosesnya. Organisasi yang sehat bukan hanya tentang banyaknya kegiatan, melainkan tentang bagaimana ia mampu menumbuhkan kesadaran dan rasa memiliki pada setiap kadernya.


Sebab, tidak semua kader datang dengan kapasitas, latar belakang, dan semangat yang sama. Ada yang datang untuk belajar, ada yang mencari ruang pulang, ada yang ingin berkembang, dan ada pula yang sekadar ingin menemukan lingkungan yang bisa menerimanya. Maka, tugas organisasi bukan hanya menuntut loyalitas, tetapi juga membangun iklim yang mampu membuat kader bertahan dan bertumbuh.


Namun demikian, kader juga tidak boleh terus-menerus menunggu disuapi arah gerakan. Organisasi bukan tempat meminta hasil secara instan. Ia adalah ruang belajar, ruang menempa diri, ruang jatuh dan bangkit bersama. Jika kader hanya hadir ketika nyaman dan pergi ketika kecewa, maka organisasi akan kehilangan ruh perjuangannya.


Kader PMII seharusnya memiliki prinsip dalam berorganisasi, bukan ketergantungan terhadap organisasi. Kader harus memiliki kesadaran, rasa tanggung jawab, dan kemauan untuk terus bergerak. Pandanglah PMII seperti cintamu; di mana pun kamu berada, PMII akan tetap bersamamu.


Menjadi kader berarti siap belajar bertanggung jawab, bahkan ketika keadaan organisasi sedang tidak baik-baik saja. Sebab, loyalitas tidak diuji ketika organisasi sedang ramai dan penuh euforia, melainkan ketika organisasi sedang sepi, kehilangan arah, dan kekurangan orang yang mau bertahan.


Pada akhirnya, gagalnya sebuah organisasi bukan semata-mata karena organisasinya yang buruk, melainkan karena kurangnya kesadaran dari orang-orang di dalamnya untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan nilai-nilai perjuangan bersama. Sebab, organisasi tidak akan pernah berjalan tanpa kader yang sadar akan tanggung jawab dan perannya.


Karena sejatinya, organisasi hanyalah wadah. Yang membuatnya hidup adalah manusia-manusia di dalamnya. Jika kader dan pengurus sama-sama saling menyalahkan tanpa mau berbenah, maka organisasi hanya akan menjadi nama tanpa makna. Tetapi ketika setiap orang mau mengambil peran, sekecil apa pun itu, maka di situlah organisasi akan tetap tumbuh, bergerak, dan menemukan arah perjuangannya.


#SalamPergerakan✊


[Sahabat Rafly Ginting]

Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama