Di Balik Bergeraknya Organisasi Intra, Ada Peran Sunyi Kader PMII


Sumber : Instagram @pmiirashul



Organisasi intra merupakan wadah mahasiswa di dalam kampus untuk menopang keilmuan di fakultas maupun program studi. Namun, beberapa ormawa yang terlalu membanggakan fakultas atau prodinya dalam kepengurusan, hingga melupakan adanya peran sunyi kader-kader PMII di balik berjalannya organisasi tersebut.


Berjalannya organisasi intra dengan baik serta keberhasilannya tentu menjadi harapan semua ormawa. Akan tetapi, banyak yang lupa bahwa berbagai bekas perjuangan dan peninggalan yang mereka lanjutkan hari ini lahir dari tangan kader-kader PMII. Seminar nasional, stuban, hingga berbagai konsep kaderisasi dan program kerja lainnya, pada dasarnya dibentuk serta dirancang oleh organisasi dan kader yang tumbuh di lingkungan PMII.


Melihat situasi di lapangan, khususnya di UIN Walisongo, tidak dapat dipungkiri bahwa kader-kader PMII memiliki peran besar dalam dinamika kampus. Lalu, apakah salah ketika kader PMII menjadi ketua ormawa? Tentu tidak. Sebab, tujuan organisasi intra adalah menjaga nama baik fakultas maupun program studi, dengan menopang narasi mahasiswa serta mewujudkan keilmuan yang berintegritas.


Peran sunyi kader PMII hadir untuk menjaga stabilitas kampus dan kepedulian terhadap mahasiswa demi mewujudkan cita-cita tersebut. Namun ironisnya, sebagian pihak justru terlalu membanggakan prodinya sendiri hingga lupa terhadap jejak perjuangan kader-kader PMII di organisasi intra kampus. Baik dari sisi konsep, program kerja, maupun pola kaderisasi, banyak yang diwariskan secara turun-temurun dan terus dirawat oleh para demisioner.


Ironisnya, tidak sedikit yang hari ini menikmati ruang organisasi yang sudah tertata rapi, tetapi lupa siapa yang dahulu menjaga ruang itu tetap hidup ketika forum sepi, ketika agenda tidak berjalan, bahkan ketika banyak mahasiswa memilih diam dan pulang. Mereka menikmati hasil dari proses panjang, tetapi enggan mengakui siapa yang berkeringat di belakang layar. Seolah organisasi intra berdiri dengan sendirinya, padahal ada kader-kader yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan akademiknya demi memastikan organisasi tetap berjalan dan mahasiswa tetap memiliki ruang untuk bertumbuh.


Lebih menyedihkan lagi ketika kader PMII hanya dipakai tenaganya saat dibutuhkan, tetapi keberadaannya dianggap mengganggu ketika mulai berbicara soal arah gerakan dan keberpihakan mahasiswa. Kader PMII diminta hadir saat forum m


embutuhkan massa, diminta bergerak saat kegiatan membutuhkan konsep, tetapi dilupakan ketika organisasi mulai merasa besar dengan namanya sendiri. Padahal, jika ingin jujur melihat sejarah, banyak ormawa hari ini tumbuh dari kultur gerakan, militansi, dan pola kaderisasi yang selama ini dirawat oleh PMII.


Lalu pertanyaannya, di mana rasa terima kasih organisasi-organisasi intra kampus terhadap peran tersebut? Sebab pada hakikatnya, PMII dan ormawa bukan untuk dipertentangkan, melainkan harus berjalan stabil dan berdampingan demi menjaga keberlanjutan kaderisasi serta keberlangsungan gerakan mahasiswa di kampus.


Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang paling lantang menyebut nama prodinya, melainkan organisasi yang tidak lupa siapa saja yang pernah menopangnya hingga bisa berdiri sejauh hari ini. Karena ketika sejarah perjuangan mulai dilupakan, maka organisasi hanya akan menjadi panggung jabatan tanpa arah gerakan.


[AlMapaba  24 & Direktur LKP]




Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama