Setiap memasuki tahun ajaran baru, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kerap dihadapkan pada narasi-narasi negatif yang beredar di ruang publik, termasuk media sosial. Narasi tersebut umumnya menyoroti anggapan bahwa PMII tidak memberikan ruang bagi pengembangan soft skill mahasiswa, bahkan disertai pula narasi personal yang mengaitkan keanggotaan PMII dengan mekanisme seleksi organisasi kemahasiswaan tertentu.
Sebagai contoh, salah satu unggahan di akun media sosial publik menyampaikan ajakan kepada mahasiswa baru untuk tidak bergabung dengan PMII, dengan alasan bahwa organisasi tersebut dinilai hanya berisi kegiatan diskusi tanpa arah yang jelas dan dianggap tidak menunjang peningkatan soft skill. Unggahan lain menyampaikan pengalaman pribadi seorang mahasiswa yang menghubungkan keberhasilannya lolos seleksi Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dengan keikutsertaannya di PMII, sementara temannya yang tidak mengikuti PMII dinyatakan tidak lolos pada proses seleksi yang sama. Pada dasarnya, kritik dan saran merupakan hal yang tetap terbuka untuk disampaikan kepada PMII sepanjang berlandaskan pada pengalaman yang rasional dan pandangan yang objektif.
Tulisan ini disusun untuk menyampaikan gambaran yang lebih utuh mengenai kehidupan di dalam rumah besar PMII, sebagai rumah yang menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan proses belajar, sekaligus klarifikasi atas kesenjangan antara narasi yang berkembang di ruang publik dengan realitas yang dialami langsung oleh kader di dalamnya.
Kabarsahabat.id Menjadi Ruang Berkarya yang Tumbuh dari Kebersamaan
Anggapan bahwa PMII tidak menunjang soft skill dapat dilihat kembali melalui keberadaan Kabarsahabat.id, media yang dikelola oleh kader PMII sebagai wadah pengembangan keterampilan kepenulisan dan jurnalistik. Melalui media ini, kader memperoleh ruang untuk berlatih menulis berita, artikel, dan esai, serta mengembangkan kemampuan desain visual dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses produksi konten. Selain itu, pengelolaan media ini turut melatih keterampilan wawancara, kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), serta peran-peran jurnalistik seperti wartawan, reporter, dan redaksi. Kabarsahabat.id tumbuh bukan semata sebagai capaian teknis, melainkan sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian antar-kader dalam saling membimbing satu sama lain untuk berkembang. Keberadaannya menunjukkan bahwa proses belajar di dalam PMII berjalan atas dasar semangat berbagi ilmu dan kasih sayang antar-anggota, sehingga menghasilkan produk dan peran nyata yang dapat diverifikasi keberadaannya.
Merangkul Wawasan Lintas Batas melalui Gambang Syafa'at
Selain melalui media internal, ruang pengembangan wawasan kader juga diperluas melalui keikutsertaan pada forum-forum keilmuan eksternal, salah satunya Gambang Syafa'at, forum ma'iyah yang didirikan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Forum ini bersifat inklusif karena merangkul berbagai kelompok masyarakat untuk berdiskusi mengenai beragam persoalan tanpa dibatasi oleh sekat organisasi maupun latar belakang keilmuan tertentu, sejalan dengan nilai keterbukaan dan sikap merangkul yang juga dijunjung dalam proses berorganisasi di PMII.
Pelaksanaan forum di Masjid Kampus Universitas Diponegoro, Semarang, mengusung tema "MERDE-KALAH" yang memadukan pembahasan filsafat, tafsir Al-Qur'an, sejarah, kebudayaan, peradaban, dan refleksi mengenai hakikat manusia, dengan menghadirkan empat narasumber, yaitu Noe (Sabrang Mowo Damar Panuluh), Ilyas Afsoh, Ki Ariyo Wisanggeni, dan Gus Aniq. Ilyas Afsoh menyampaikan gagasan bahwa kemerdekaan sejatinya berada pada diri sendiri, sebagaimana termuat dalam makna ganda tema forum, "MERDE-KALAH", yang dapat dimaknai sebagai "merdekalah" sekaligus mengandung unsur "kalah" di dalamnya.
Sabrang menyampaikan gagasan mengenai ketergantungan manusia terhadap berbagai bentuk proksi (proxy) dalam kehidupan modern, konsep "hati yang selesai" dalam menyikapi masa lalu dan masa depan, serta pentingnya menyaring informasi dari berbagai sumber sebelum menyimpulkan kebenarannya. Ki Ariyo Wisanggeni menyoroti keinginan (hasrat) sebagai salah satu sumber penderitaan manusia serta pentingnya melihat perbedaan pendapat sebagai bagian dari latihan berkomunikasi. Adapun Gus Aniq mengangkat konsep "Mahardika" sebagai sikap yang membawa individu pada perilaku berbudi luhur, sekaligus menekankan bahwa penafsiran ayat Al-Qur'an memiliki lapisan makna yang beragam dan membutuhkan penalaran akal yang argumentatif. Keikutsertaan kader pada forum tersebut menegaskan bahwa proses kaderisasi di PMII tidak berhenti pada forum internal organisasi, melainkan turut tumbuh melalui keterbukaan menerima wawasan dari berbagai pihak, sebagai bentuk penghayatan nilai kemanusiaan dan cinta terhadap ilmu pengetahuan.
Pendampingan Kader Baru sebagai Wujud Kasih Sayang
Pada pelaksanaan forum tersebut, seorang mahasiswa baru turut diajak untuk mengikuti kegiatan sebagai bagian dari proses pendampingan. Mahasiswa tersebut menyampaikan bahwa keikutsertaannya memberikan wawasan baru serta pengalaman berinteraksi dengan narasumber yang kompeten, sekaligus menyampaikan kendala berupa kesulitan dalam menyusun narasi dan melatih kemampuan berbicara di depan umum. Terhadap hal tersebut disampaikan bahwa kemampuan berbicara di depan umum diperoleh melalui pembiasaan berdiskusi dan bertanya secara berkelanjutan, yang dapat difasilitasi melalui keikutsertaan dalam organisasi, salah satunya PMII.
Proses tersebut memperoleh tanggapan dari salah satu alumni UIN Walisongo Semarang, yang menyatakan bahwa keikutsertaan mahasiswa baru pada forum eksternal bersama pengurus merupakan bagian dari proses kaderisasi yang memperluas wawasan kader ke ruang-ruang di luar organisasi. Pendampingan semacam ini menunjukkan bahwa relasi antara kader senior dan kader baru di dalam PMII dibangun atas dasar kepedulian dan kasih sayang, bukan semata hubungan struktural organisasi.
Kesetaraan dan Nilai Kemanusiaan dalam Ruang Organisasi Kampus
Terkait narasi personal yang menghubungkan keberhasilan seleksi HMJ dengan keikutsertaan pada PMII, perlu disampaikan bahwa narasi tersebut merupakan pengalaman dan interpretasi individu terhadap suatu peristiwa, sehingga tidak dapat sertamerta digeneralisasi sebagai gambaran menyeluruh atas mekanisme seleksi organisasi kemahasiswaan secara umum. Sebagai pembanding, berdasarkan pengamatan langsung penulis selaku mahasiswa pada proses open rekrutmen organisasi intra kampus di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora tahun 2025, baik untuk Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA), maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), ditemukan bahwa mahasiswa yang diterima menjadi pengurus tidak terbatas pada mahasiswa yang mengikuti PMII.
Sejumlah mahasiswa dari angkatan yang sama yang sama sekali tidak mengikuti organisasi ekstra kampus, maupun mahasiswa yang mengikuti organisasi ekstra kampus lain seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Nahlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) turut dinyatakan diterima sebagai pengurus pada HMJ, Dema, Sema, maupun UKM di lingkungan fakultas tersebut.
Data tersebut menunjukkan bahwa latar belakang keikutsertaan pada organisasi ekstra kampus tertentu, termasuk PMII, bukan merupakan persyaratan mendasar untuk dapat aktif dan diterima dalam kepengurusan organisasi intra kampus di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Aspek yang menjadi pertimbangan dalam proses seleksi lebih mengarah pada kompetensi, pengabdian, solidaritas, serta komitmen untuk bekerja sama dengan anggota lain demi tercapainya tujuan bersama, sebuah nilai kesetaraan dan kemanusiaan yang dijunjung bersama tanpa memandang latar belakang organisasi.
Jejak Alumni PMII di Kancah Nasional dan Global
Nilai-nilai yang ditanamkan melalui proses berproses di PMII turut tercermin dari jejak sejumlah alumninya yang berhasil berkiprah di berbagai bidang, baik di tingkat nasional maupun global. Beberapa di antaranya adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. yang menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Hc. Muhaimin Iskandar yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, serta Muhammad Naryoko, S.Fil.I,. M.S.I., alumni PMII UIN Walisongo Semarang.
Di lingkungan akademik, sejumlah alumni PMII turut menduduki posisi strategis, seperti Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku Rektor UIN Walisongo Semarang dan Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram. Adapun di tingkat daerah dan dunia usaha, tercatat pula nama Mukhamad Nur Huda, alumni PMII UIN Walisongo Semarang yang menjabat sebagai Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, serta Jamal Luthfi, S.Fil.I., M.M., alumni PMII UIN Walisongo Semarang yang berkiprah sebagai pengusaha di bidang meubel dan sworom kaje mobil, serta sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) PMII UIN Walisongo Semarang.
Daftar tersebut merupakan sebagian kecil dari banyaknya alumni PMII, termasuk dari UIN Walisongo Semarang, yang telah menunjukkan keberhasilan di berbagai bidang, baik akademik, kewirausahaan, politik, maupun pemerintahan. Jejak-jejak tersebut menjadi bukti konkret bahwa proses berproses di PMII turut membentuk kompetensi dan karakter yang relevan untuk bersaing di tingkat nasional maupun global. Berdasarkan uraian di atas, gambaran mengenai PMII yang berkembang di ruang publik dapat dilengkapi dengan realitas yang lebih utuh, yaitu rumah yang menumbuhkan kebersamaan, keterbukaan wawasan, kasih sayang antar-kader, kesetaraan, serta jejak nyata alumni yang berkiprah di berbagai bidang hingga tingkat nasional dan global.
[Sahabat Sukron/ Kabid Kepenulisan Aprillo]
