SEMARANG — PMII Rayon Ushuluddin Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar Workshop Kajian dan Kepenulisan di Sekretariat PMII Rayon Ushuluddin, pada hari Ahad, 30 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30–12.00 WIB tersebut diikuti 12 peserta dengan materi kelembagaan, kajian, dan kepenulisan. Workshop yang diselenggarakan Lembaga Kajian dan Kepenulisan (LKP) tersebut menghadirkan Sahabat A. Luthfi Mubarokatul A. sebagai pemateri kelembagaan dan Sahabat Muhammad Wisnu Al-Amin sebagai pemateri kepenulisan.
Pada sesi pertama, Sahabat A. Luthfi Mubarokatul A. membahas konsep kelembagaan serta sejarah LKP di PMII Rayon Ushuluddin. Materi mencakup pengertian lembaga sebagai bentuk organisasi dan tatanan norma, pedoman organisasi, administrasi, serta AD/ART. LKP dijelaskan sebagai lembaga semiotonom di lingkungan PMII Rayon Ushuluddin. Keberadaannya merupakan hasil perkembangan kelembagaan pada masa kepengurusan Umam dalam RTAR 2020–2021.
Sebelum menjadi LKP, terdapat Biro Wacana dan Kajian serta Biro Media dan Kepenulisan. Perkembangan kelembagaan tersebut kemudian menyatukan kajian dan kepenulisan dalam LKP, sementara bidang media dan cyber menjadi satu kesatuan tersendiri. Dalam pemaparannya, Sahabat A. Luthfi menjelaskan LKP memiliki fungsi sebagai ruang pengembangan minat dan bakat sekaligus penggodokan kader. LKP membawahi bidang kajian dan bidang kepenulisan dengan struktur kelembagaan yang dilengkapi sekretaris dan bendahara.
Pembahasan kajian juga diarahkan pada ruang lingkup yang lebih luas. Kajian Rayon Ushuluddin tidak hanya berkaitan dengan filsafat, tetapi dapat membahas isu-isu kekinian, termasuk politik dan sosial. Sahabat Agung Pambudi, sebagai kepala bidang kajian LKP, menyampaikan bahwa Rayon Ushuluddin dipandang sebagai salah satu tonggak utama dalam kajian di antara rayon lainnya, khususnya dalam kajian filsafat.
Sesi berikutnya berfokus pada kepenulisan yang disampaikan Sahabat Muhammad Wisnu Al-Amin. Materi mencakup berbagai bentuk tulisan, seperti esai, opini, artikel, hingga karya sastra. Dalam materi kepenulisan, peserta diperkenalkan dengan metode induksi dan deduksi dalam menyusun latar belakang tulisan. Peserta diarahkan menentukan persoalan yang hendak dibahas sebelum mengembangkan gagasan ke dalam tulisan. Sejumlah tema digunakan sebagai bahan latihan, antara lain “Agama Sebagai Jalan Moral atau Alat Kekuasaan?”, “Masih Relevankah Hari Ini Kapitalisme Karl Marx?”, “Hegemoni di Era Sosial Gramsci”, dan “Relevansi Krisis Batin Al-Ghazali Hari Ini?”. Materi juga membahas pentingnya definisi dalam kepenulisan.
Definisi digunakan untuk mengurangi ambiguitas diksi sehingga istilah yang digunakan dalam tulisan memiliki batas pengertian yang jelas. Selama sesi kepenulisan berlangsung, peserta diwajibkan membawa laptop masingmasing untuk mengikuti praktik secara langsung. Pemateri memberikan sejumlah tugas yang dikerjakan peserta saat workshop berlangsung.
Salah satu latihan yang diberikan adalah menentukan ide pokok dan ide pendukung dari gagasan yang sedang dikembangkan. Peserta kemudian diarahkan menyusun gagasan tersebut ke dalam kerangka tulisan atau outline. Setelah latihan awal, peserta juga mendapat tugas membuat karya tulisan secara mandiri. Peserta diberikan keleluasaan memilih bentuk tulisan, mulai dari berita, artikel, opini, hingga esai.
Peserta kemudian diarahkan menemukan gap atau masalah dari tema yang dipilih. Setelah itu, peserta menyusun ide pokok sebagai dasar pengembangan paragraf dan mengembangkan gagasan tersebut menjadi tulisan. Praktik menggunakan laptop tersebut membuat peserta mengikuti tahapan kepenulisan secara langsung, mulai dari menentukan persoalan, menemukan ide pokok dan ide pendukung, menyusun outline, hingga mengembangkan gagasan menjadi sebuah karya tulisan.
Workshop tersebut mempertemukan materi kelembagaan, kajian, dan kepenulisan dalam satu rangkaian kegiatan. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti latihan dan penugasan untuk menyusun gagasan serta menghasilkan karya tulisan dalam bentuk yang dipilih masing-masing.
[Sahabat Sukron]
