Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan atau yang biasa kita sebut PBAK selalu punya nuansa tersendiri setiap tahunnya. Ada semangat yang campur aduk di sana. Mahasiswa baru yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampus masih sibuk dengan kebingungannya sendiri, sementara di sudut lain kesibukan terus berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Cek
kesehatan, pengambilan almamater, foto KTM, semuanya berlangsung hampir dalam
waktu yang bersamaan. Orang-orang berjalan ke sana ke mari, mencari tempat yang
harus didatangi, memastikan tidak ada tahapan yang terlewat. Kadang melelahkan,
bahkan bagi orang yang sudah terbiasa dengan suasana kampus sekalipun.
Tapi
di tengah keramaian itu, ada satu hal yang jarang dilihat orang. Ada
orang-orang yang bekerja diam-diam, tanpa seragam khusus, tanpa papan nama
jabatan, bahkan tanpa bayaran sepeser pun.
Kampus
tentu menyiapkan kebutuhan teknis PBAK dengan baik. Ada panitia cek kesehatan,
petugas pengambilan almamater, sampai petugas foto KTM. Tapi ada satu hal yang
tidak selalu bisa disiapkan kampus, yaitu seseorang yang mendekati mahasiswa
baru ketika ia berdiri kebingungan, tidak tahu harus ke mana, dan tidak tahu
harus bertanya kepada siapa.
Di
situlah kader-kader PMII mengisi ruang yang kadang tidak terlihat itu.
Mereka
berjalan mengelilingi Kampus UIN Walisongo Semarang bukan karena ada yang
menyuruh. Mereka mendekati mahasiswa baru yang berdiri sendiri bukan karena ada
absensi kehadiran. Mereka bolak-balik dari satu titik ke titik lain, dari
gedung satu ke gedung lainnya.
Tidak
peduli mahasiswa baru itu dari prodi mana. Kalau bingung, diarahkan. Kalau
terpisah dari rombongan, dicari. Kalau tidak tahu harus ke mana, didampingi.
Sederhana memang, tapi bagi seseorang yang baru pertama kali berada di
lingkungan sebesar kampus, hal sederhana seperti itu kadang cukup membuatnya
merasa tidak sendirian.
Tidak
ada yang tahu berapa banyak langkah yang sudah mereka tempuh hari itu. Tidak
ada yang tahu berapa kali mereka berlari kecil mengejar mahasiswa baru yang
terpisah dari rombongan. Tidak ada pula yang benar-benar tahu bahwa di balik
senyum yang mereka tunjukkan, ada tubuh yang mulai lelah, tenggorokan yang
kering, dan mungkin perut yang belum terisi sejak pagi.
Tapi
mereka tetap berdiri. Tetap berjalan. Tetap tersenyum.
Karena
bagi mereka, mungkin tidak ada yang lebih baik daripada menjadi manusia yang
bermanfaat bagi manusia lainnya. Bahkan ketika orang yang dibantu itu tidak
tahu siapa mereka.
Ketika Stigma Datang Lebih Dulu
Ironisnya,
orang-orang yang bekerja seperti itu tanpa pamrih, tanpa upah, dan tanpa banyak
pengakuan justru menjadi bagian dari kelompok yang paling sering mendapat
stigma buruk.
“Anak
organisasi pasti telat lulus.”
“Anak
PMII suka bikin onar.”
“Organisasi
itu cuma buang-buang waktu.”
“Demo
sana-sini tidak jelas.”
Kalimat
seperti ini mudah sekali ditemukan. Tinggal buka media sosial, dan kita bisa
menemukan berbagai cerita tentang buruknya organisasi. Lebih mudah lagi untuk
mempercayainya, apalagi ketika cerita itu dibungkus dalam video beberapa detik
dan muncul berulang kali di beranda.
Saya
tidak bilang semua stigma itu muncul tanpa alasan. Ada saja kader yang bikin
ulah. Ada juga orang-orang di dalam organisasi yang memang melakukan sesuatu
yang salah. Bahkan kadang, kita sendiri mungkin pernah gregetan melihat tingkah
laku sebagian dari mereka.
Tapi
yang menjadi persoalan adalah ketika kesalahan satu orang kemudian berubah
menjadi alasan untuk menghakimi semuanya.
Padahal,
kalau kita mau melihat lebih jauh, ada banyak hal yang tidak masuk ke media
sosial. Tidak ada konten tentang kader yang berjalan seharian mendampingi
mahasiswa baru. Tidak ada kamera yang mengikuti ketika mereka mengantar
mahasiswa yang kebingungan mencari gedung. Tidak ada pula video yang merekam
berapa kali mereka kembali hanya karena masih ada satu mahasiswa yang
tertinggal.
Kerja-kerja
seperti itu memang tidak dibuat untuk viral.
Dan
mungkin memang tidak akan pernah masuk FYP.
Yang
buruk bukan organisasinya. Yang buruk adalah oknum tertentu yang kebetulan ada
di dalamnya. Sebab oknum seperti itu bisa ada di mana saja. Di dalam
organisasi, di luar organisasi, bahkan mungkin di antara mereka yang paling
keras menyebut dirinya anti-organisasi.
Namun,
karena yang buruk biasanya lebih mudah terlihat, kita sering lupa bahwa ada
hal-hal baik yang berjalan diam-diam.
Jangan Biarkan Layar Menentukan Pengalamanmu
Kamu
baru saja memasuki dunia yang jauh lebih luas dari sekadar ruang kelas dan
tugas akademik. Di kampus nanti kamu akan menemukan banyak pilihan, banyak
jalan, dan banyak orang yang merasa jalannya adalah yang paling benar.
Termasuk
soal organisasi.
Tidak
semua orang harus ikut organisasi. Tidak semua orang cocok menjadi kader. Dan
itu bukan masalah. Tapi sebelum memutuskan untuk menutup pintu terhadap sesuatu
yang bahkan belum pernah kamu masuki, mungkin ada satu hal yang perlu
dipikirkan.
Jangan
biarkan layar ponselmu menggantikan pengalamanmu sendiri.
Organisasi,
termasuk PMII, memang bukan tempat yang sempurna. Ada budaya yang perlu
dibenahi. Ada senioritas yang kadang berlebihan. Ada dinamika internal yang
bahkan bisa membuat orang lelah. Semua itu tidak perlu ditutupi seolah
organisasi adalah tempat tanpa cela.
Tapi
semua kekurangan itu juga bukan alasan untuk menganggap seluruh ruang
pergerakan ini tidak lagi punya nilai.
Yang
membuat organisasi baik atau buruk bukan nama organisasinya. Manusialah yang
menggerakkannya. Dan manusia bisa berubah.
Termasuk
kamu.
Kalau
suatu saat kamu memilih masuk, kamu bisa ikut membawa perubahan itu. Kalau kamu
melihat sesuatu yang salah, kamu bisa mengkritiknya. Kalau ada budaya yang
sudah tidak relevan, kamu bisa ikut mengubahnya. Karena organisasi tidak akan
berubah kalau semua orang yang ingin melihat perubahan memilih pergi sebelum
mencoba.
Kader-kader
PMII yang mendampingimu di hari pertama kampus mungkin tidak mengharapkan tepuk
tangan. Mereka juga tidak menuntut kamu harus masuk dan menjadi kader PMII
setelahnya.
Yang
mereka harapkan mungkin jauh lebih sederhana.
Kamu
tidak berdiri sendiri ketika berada di tempat yang asing.
Kamu
tahu harus ke mana ketika bingung.
Dan
kamu tahu bahwa di tengah banyaknya orang yang berlalu-lalang, masih ada
seseorang yang mau berhenti untuk sekadar bertanya, “Kamu sudah tahu tempatnya
belum?”
Mungkin
itu yang sering luput dari penilaian kita tentang sebuah organisasi. Tidak
semua gerakan harus besar. Tidak semua perjuangan harus direkam. Dan tidak
semua hal baik harus diberi panggung.
Sebab
ada orang-orang yang tetap bergerak meski tidak ada yang melihat. Bukan karena
ada kamera. Bukan karena ada bayaran.
Tapi
karena memang begitulah seharusnya manusia hadir untuk manusia lainnya.
[Sahabat Sukron/ Kabid Kepenulisan Aprillo]
