Saya tidak akan bilang stigma itu muncul tiba-tiba. Ada saja
kader yang bikin ulah, ada saja pengurus yang lebih sibuk berebut kursi
ketimbang menjalankan program kerja, dan ada saja senior yang lebih doyan
menyuruh ketimbang membimbing. Itu fakta. Jujur saja, saya juga sering gregetan
melihatnya. Tapi menyimpulkan bahwa organisasi ekstra kampus sepenuhnya busuk,
cuma modal pamer alumni, dan tidak ada gunanya sama sekali, nah, ini yang
menurut saya kelewatan.
Iya, saya tahu organisasi ekstra memang doyan menyebut nama
alumni yang sekarang menjadi menteri, anggota dewan, atau birokrat untuk
menarik perhatian mahasiswa baru. Kesannya memang seperti iming-iming relasi
instan, “Gabung sekarang, siapa tahu nanti jaringanmu setara dengan Pak Anu.”
Norak? Iya. Tapi jujur saja, hampir semua ruang organisasi memanfaatkan nama
besar alumninya untuk membangun kredibilitas.
Bedanya, organisasi ekstra sering mendapat sorotan lebih
keras karena skalanya nasional dan tidak jarang bersinggungan langsung dengan
politik. Akibatnya, setiap kesalahannya mendadak terlihat jauh lebih besar di
mata publik.
Padahal, yang sering luput dari obrolan adalah bahwa di
balik drama kongres yang ricuh dan dinamika internal yang menguras emosi, ada
ruang belajar yang jarang ditawarkan di kelas perkuliahan. Mulai dari belajar
bicara di depan forum tanpa gemetar, menyusun proposal kegiatan dari nol,
bernegosiasi dengan birokrasi kampus, hingga menghadapi perbedaan pendapat yang
lumayan ekstrem tanpa perlu memblokir akun media sosial sesama kader.
Keterampilan seperti ini jarang diajarkan di papan tulis.
Semua dipraktikkan langsung di ruang rapat yang kadang molor sampai dini hari.
Saya sepakat kalau banyak organisasi ekstra masih berjalan
dengan pola pikir dua dekade lalu. Materi kaderisasi yang kaku, senioritas yang
dianggap tradisi padahal cuma dendam turun-temurun, hingga program kerja yang
berhenti di wacana diskusi tanpa aksi nyata. Semua itu memang persoalan yang
perlu dibenahi.
Namun, masalah sistemik seperti ini sebenarnya ada di hampir
semua institusi yang diisi manusia. Solusinya bukan langsung melempar
organisasinya ke tempat sampah sejarah, melainkan memperbaiki sistemnya dari
dalam. Di sinilah keberadaan kader-kader muda yang kritis dibutuhkan. Bukan
untuk kabur karena lelah, tapi bertahan dan mendorong perubahan meski capeknya
kadang berlipat ganda.
Coba bayangkan kalau semua mahasiswa yang kritis memilih
menjauh. Yang tersisa hanyalah mereka yang nyaman dengan status quo, dan
organisasi tersebut akan semakin sulit berubah. Bukankah ironis ketika kita
mengeluhkan organisasi ekstra yang jumud, sementara di saat yang sama kita ikut
mempercepat kejumudannya dengan cara angkat kaki?
Ruang Belajar yang Masih Tersisa
Di tengah tren mahasiswa yang makin individualis, sibuk
mengejar IPK, magang, dan memoles portofolio LinkedIn, organisasi ekstra
sebenarnya menjadi salah satu ruang yang masih memaksa kita memikirkan sesuatu
di luar diri sendiri.
Diskusi kebijakan publik, isu perburuhan, hingga advokasi
hak-hak mahasiswa adalah beberapa hal yang belum tentu tersentuh jika aktivitas
kita hanya sebatas mengumpulkan tugas dan melamar magang. Boleh dibilang naif,
tapi semangat kolektif seperti ini makin langka. Organisasi ekstra, dengan
segala kegaduhannya, masih berusaha menjaganya tetap hidup.
Bukan berarti saya menyarankan semua mahasiswa buru-buru
mendaftar menjadi kader. Tidak semua orang cocok, dan itu sangat wajar. Yang
saya keberatan adalah penghakiman seolah seluruh eksistensi organisasi ini
tidak lagi bernilai, padahal kebobrokan yang terlihat sering kali bersumber
dari oknum atau metode kaderisasi lama yang memang perlu direvisi.
Organisasi ekstra kampus jelas bukan malaikat. Ada kadernya
yang toxic, ada budaya yang perlu dibenahi, dan politik internal yang kadang
bikin lelah melebihi skripsi. Namun, predikat “seburuk itu” rasanya kurang adil
untuk sebuah ruang yang, di luar segala kekurangannya, masih konsisten menjadi
tempat belajar bagi orang-orang untuk berani bersuara dan tidak alergi pada
perbedaan pendapat.
Pada akhirnya, sebelum terburu-buru memberi cap buruk, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita akan terus membiarkan ruang pergerakan ini membusuk di tangan yang salah, atau memilih mengambil peran untuk membenahinya?
[Kader Bingung./ Kabid Kepenulisan Aprillo]
