Organisasi Ekstra Kampus Tak “Seburuk Itu” Kok

 

Sumber : Dok.Pribadi

“Ngapain sih masih ikut organisasi ekstra? Kerjaannya cuma rapat, disuruh senior, terus dicap haus kekuasaan sama teman sendiri.” Kalimat semacam ini rasanya sudah menjadi templat setiap kali muncul obrolan soal PMII, HMI, GMNI, IMM, atau organisasi ekstra lain di lingkaran pertemanan kampus. Belum lagi kalau mampir ke Twitter/X, julukan “manut omongan senior” sampai “tukang keroyok diskusi” seolah sudah otomatis melekat begitu seseorang mengaku aktif di organisasi ekstra.

Saya tidak akan bilang stigma itu muncul tiba-tiba. Ada saja kader yang bikin ulah, ada saja pengurus yang lebih sibuk berebut kursi ketimbang menjalankan program kerja, dan ada saja senior yang lebih doyan menyuruh ketimbang membimbing. Itu fakta. Jujur saja, saya juga sering gregetan melihatnya. Tapi menyimpulkan bahwa organisasi ekstra kampus sepenuhnya busuk, cuma modal pamer alumni, dan tidak ada gunanya sama sekali, nah, ini yang menurut saya kelewatan.

Iya, saya tahu organisasi ekstra memang doyan menyebut nama alumni yang sekarang menjadi menteri, anggota dewan, atau birokrat untuk menarik perhatian mahasiswa baru. Kesannya memang seperti iming-iming relasi instan, “Gabung sekarang, siapa tahu nanti jaringanmu setara dengan Pak Anu.” Norak? Iya. Tapi jujur saja, hampir semua ruang organisasi memanfaatkan nama besar alumninya untuk membangun kredibilitas.

Bedanya, organisasi ekstra sering mendapat sorotan lebih keras karena skalanya nasional dan tidak jarang bersinggungan langsung dengan politik. Akibatnya, setiap kesalahannya mendadak terlihat jauh lebih besar di mata publik.

Padahal, yang sering luput dari obrolan adalah bahwa di balik drama kongres yang ricuh dan dinamika internal yang menguras emosi, ada ruang belajar yang jarang ditawarkan di kelas perkuliahan. Mulai dari belajar bicara di depan forum tanpa gemetar, menyusun proposal kegiatan dari nol, bernegosiasi dengan birokrasi kampus, hingga menghadapi perbedaan pendapat yang lumayan ekstrem tanpa perlu memblokir akun media sosial sesama kader.

Keterampilan seperti ini jarang diajarkan di papan tulis. Semua dipraktikkan langsung di ruang rapat yang kadang molor sampai dini hari.

Saya sepakat kalau banyak organisasi ekstra masih berjalan dengan pola pikir dua dekade lalu. Materi kaderisasi yang kaku, senioritas yang dianggap tradisi padahal cuma dendam turun-temurun, hingga program kerja yang berhenti di wacana diskusi tanpa aksi nyata. Semua itu memang persoalan yang perlu dibenahi.

Namun, masalah sistemik seperti ini sebenarnya ada di hampir semua institusi yang diisi manusia. Solusinya bukan langsung melempar organisasinya ke tempat sampah sejarah, melainkan memperbaiki sistemnya dari dalam. Di sinilah keberadaan kader-kader muda yang kritis dibutuhkan. Bukan untuk kabur karena lelah, tapi bertahan dan mendorong perubahan meski capeknya kadang berlipat ganda.

Coba bayangkan kalau semua mahasiswa yang kritis memilih menjauh. Yang tersisa hanyalah mereka yang nyaman dengan status quo, dan organisasi tersebut akan semakin sulit berubah. Bukankah ironis ketika kita mengeluhkan organisasi ekstra yang jumud, sementara di saat yang sama kita ikut mempercepat kejumudannya dengan cara angkat kaki?

Ruang Belajar yang Masih Tersisa

Di tengah tren mahasiswa yang makin individualis, sibuk mengejar IPK, magang, dan memoles portofolio LinkedIn, organisasi ekstra sebenarnya menjadi salah satu ruang yang masih memaksa kita memikirkan sesuatu di luar diri sendiri.

Diskusi kebijakan publik, isu perburuhan, hingga advokasi hak-hak mahasiswa adalah beberapa hal yang belum tentu tersentuh jika aktivitas kita hanya sebatas mengumpulkan tugas dan melamar magang. Boleh dibilang naif, tapi semangat kolektif seperti ini makin langka. Organisasi ekstra, dengan segala kegaduhannya, masih berusaha menjaganya tetap hidup.

Bukan berarti saya menyarankan semua mahasiswa buru-buru mendaftar menjadi kader. Tidak semua orang cocok, dan itu sangat wajar. Yang saya keberatan adalah penghakiman seolah seluruh eksistensi organisasi ini tidak lagi bernilai, padahal kebobrokan yang terlihat sering kali bersumber dari oknum atau metode kaderisasi lama yang memang perlu direvisi.

Organisasi ekstra kampus jelas bukan malaikat. Ada kadernya yang toxic, ada budaya yang perlu dibenahi, dan politik internal yang kadang bikin lelah melebihi skripsi. Namun, predikat “seburuk itu” rasanya kurang adil untuk sebuah ruang yang, di luar segala kekurangannya, masih konsisten menjadi tempat belajar bagi orang-orang untuk berani bersuara dan tidak alergi pada perbedaan pendapat.

Pada akhirnya, sebelum terburu-buru memberi cap buruk, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita akan terus membiarkan ruang pergerakan ini membusuk di tangan yang salah, atau memilih mengambil peran untuk membenahinya?

[Kader Bingung./ Kabid Kepenulisan Aprillo]




 


Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama