![]() |
| Gambar : Dokumentasi Diskusi |
Dalam setiap peradaban, generasi muda selalu menjadi penggerak perubahan. Mereka Adalah penjaga Nurani zaman yang berani bersuara, menolak tunduk pada ketidakadilan, dan menyalakan Cahaya di tengah gelapnya realitas sosial. Namun dalam semangat perjuangan itu, sering kali keberanian kehilangan arah ketika tidakl lagi berpikjak pada nilai. Pada titik inilah futuwah hadir sebagai etos moral yang menuntun arah perjuangan agar tetap murni, berani, dan berkeadaban.
Futuwah tidak berhenti pada keyainan, tetapi termanifestasi dalam tindakan nyata. Nilai-nilainya tampak melalui kejujuran dalam berbicara, meninggalkan kebohongan, bersedekah kepada yang lemah, menjaga rasa malu, serta menebarkan kemurahan hati. Dalam Al-Qur’an, nilai-nilai ini tercermin pada kisah Ashabul Kahfi, para pemuda yang tetap teguh pada keimanan meski harus melawan arus kekuasaan. Begitu juga dengan Nabi Muhammad saw., yang menunjukkan futuwah tertinggi dengan meneladani sifat-sifat Allah. Beliau menguah akhlak manusia bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan kasih sayang, pengampunan, dan keadilan.
Apabila ditarik ke konteks kekinian, futuwah menemukan relevansinya dalam Gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa idelanya tidak hanya reaktif terhadap isu sisoal, tetapi juga reflektif terhadap nilai-nilai yang melandasinya. Futuwah mengajarkan bahwa perjuangan sejati tidak lahir dari ambisi pribadi, tetapi dari kesadaran untuk membela yang lemah (mustadh’afin). Dalam hal ini, futuwah bahkan melampaui konsep itsar atau mendahulukan orang lain, sebab futuwah berangkat dari kesadaran spiritual bahwa setiap Tindakan sosial Adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.
Gerakan mahasiswa juga sering kali berhadapan dengan dilema antara idealism dan kepentingan organisasi. Dalam dunia organisasi, futuwah hadir bukan sebagai slogan, tetapi sebagai nilai yang menuntun arah perjuangan. Futuwah tidak membutuhkan organisasi, justru organisasi yang membutuhkan futuwah agar tidak kehilangan ruhnya. Tanpa kesadaran ini, Gerakan akan mudah tersesat pada kepentingan sempit dan kehilangan makna spiritualnya.
Menjadi muda bukan hanya soal umur, melainkan soal semagat untuk melampaui ego. Jiwa muda yang sejati Adalah mereka yang berani jujur, berani mamaafkan, dan berani berbuat tanpa mengharap imabalan. Di sinilah futuwah menemukan ferevansinyya di Tengah kehidupan kampus dan menjadi cermin bagi mahasiswa agar tetap Tangguh memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, dengan keberanian yang lahir dari hati yang Ikhlas.
[Sahabati Rida]
