Ada masanya ketika PMII Cabang Kota Semarang dikenal bukan hanya karena rapat-rapat realisasi program kerja, tetapi karena taring yang tajam dan gagasan-gagasan yang hidup. Tulisan kader-kader PMII Semarang beredar dari grup ke grup, artikel opini menghiasi media kampus, dan website organisasi menjadi katalog intelektual yang merekam denyut pemikiran pergerakan. Menulis bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari nafas kaderisasi.
Sayangnya hari ini, suasananya terasa berbeda. Sunyi. Bukan sunyi tanpa sebab, melainkan sunyi yang bisa dilacak jejaknya. Salah satunya adalah website PMII Cabang Kota Semarang yang tidak lagi dapat diakses. Sebuah fakta sederhana, tetapi sarat makna. Di era digital, ketika hampir seluruh diskursus berpindah ke ruang digital, absennya website bukan sekadar persoalan teknis ia adalah simbol. Website seharusnya menjadi ruang bertemunya gagasan kader, arsip pemikiran, dan jendela organisasi ke hadapan publik. Ketika ruang itu tertutup, maka yang ikut tertutup adalah ingatan kolektif gerakan. Gagasan dan tulisan yang pernah lahir kehilangan rumahnya, dan kader kehilangan panggung untuk berbicara.
Kemunduran literasi ini tidak hadir secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, seiring berkurangnya kesadaran bahwa menulis adalah bentuk perjuangan. Diskusi tetap berjalan, forum tetap ramai, tetapi gagasan berhenti di ruang-ruang tertutup. Tidak ditulis, tidak didokumentasikan, tidak diwariskan atau tidak di sulap menjadi suatu karya. Padahal, sejarah pergerakan mahasiswa selalu bergerak dari ide, lalu dituangkan ke dalam teks yang menjadi manifestasi bahwa kader-kader PMII Cabang Semarang memiliki kualitas untuk bertarung gagasan, seperti halnya artikel, dan esai-esai kritis.
Ketika website tidak terurus, sesungguhnya yang bermasalah bukan hanya server atau domain, tetapi juga orientasi gerakan. Literasi diperlakukan hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai pondasi utama. Bidang kepenulisan seringkali menjadi formalitas struktural, bukan ruang produksi gagasan yang hidup. Akibatnya, kader yang ingin menulis tidak mendapatkan ekosistem yang mendukung, dan yang tidak terbiasa menulis pun tidak pernah sadar untuk belajar bersama dunia kepenulisan.
Ironinya, PMII lahir dari rahim tradisi intelektual Nahdlatul Ulama yang kaya akan teks, kitab, dan karya tulis. Namun di tingkat cabang, warisan ini perlahan memudar. Website yang mati seolah mengabarkan satu pesan jelas: gerakan menulis sedang tidak baik-baik saja. Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan satu periode atau satu kepengurusan. ini adalah refleksi bersama, bahwa tanpa kesadaran literasi, pergerakan akan kehilangan ruh dan nilainya.
Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan kita selayaknya vonis yang didapatkan oleh seorang terdakwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” Kalimat ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi setiap organisasi pergerakan yang mengaku berpijak pada tradisi intelektual. Terlebih PMII Cabang Kota Semarang, yang hari ini justru memperlihatkan tanda-tanda paling telanjang dari kemunduran literasi. Website organisasi tidak dapat diakses, ruang publikasi mati, dan gerakan menulis seolah ditinggalkan.
Sudah seharusnya kondisi ini menjadi alarm bahaya. Menghidupkan kembali website bukan hanya soal memperbaiki tampilan atau akses, tetapi menghidupkan kembali semangat menulis itu sendiri. Menghadirkan kembali keyakinan bahwa setiap kader adalah produsen gagasan, dan setiap gagasan layak ditulis serta dipublikasikan. Sebab organisasi yang besar bukan hanya yang ramai oleh agenda, tetapi yang mampu meninggalkan jejak pemikiran. Dan jejak itu, hanya bisa ditinggalkan melalui tulisan.
[Sahabat As'ad]
