Membangun Kesadaran Literasi Mahasiswa melalui Kisah Luka dalam Laut Bercerita

 

Gambar : Buku laut bercerita ( www.marhaenpress.com ) 


Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori berangkat dari kisah kelam yang dialami Indonesia pada tahun 1998,yang mana  masa akhir dari sistem otoriter pemerintahan Orde Baru. Novel ini menggambarkan perjuangan para aktivis, buruh, dan petani yang berjuang untuk mempertahankan hak mereka. Misalnya, petani yang tanahnya dirampas paksa oleh pemerintah, lalu para aktivis yang membantu berkonsolidasi untuk menolak perampasan tanah tersebut.


Melalui novel ini, pembaca diajak menyelami sejarah kelam yang jarang dibicarakan di ruang-ruang pendidikan formal. Indonesia pernah mengalami masa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat, di mana orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau berlatar belakang tahanan politik (tapol) mengalami pengasingan, diskriminasi, bahkan alienasi dari kehidupan sosial.


Selain itu, novel ini juga menunjukkan bahwa pergerakan mahasiswa saat itu sangat terbatas. Untuk sekadar menulis, membaca, atau berdiskusi, mereka harus melewati berbagai rintangan. Pada masa Orde Baru, buku-buku yang dianggap berhaluan kiri akan disita. Karya-karya seperti milik Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh yang terafiliasi kiri dilarang beredar. Jika aparat mengetahui seseorang memiliki atau membaca buku-buku tersebut, orang itu bisa ditangkap, dipenjara, disiksa, bahkan dihilangkan secara paksa.


Karena itu, para mahasiswa saat itu harus mencari cara lain untuk tetap bisa belajar dan berdiskusi. Buku-buku terlarang pada masa  itu sering kali difotokopi lalu disebarkan diam-diam kepada kawan-kawan mahasiswa lain. Mereka juga mengadakan diskusi dengan cara sembunyi-sembunyi, dan penuh kewaspadaan.


Tokoh utama dalam novel ini, Biru Laut, bersama teman-temannya seperti Alex, Naratama, Gala, Daniel, dan lainnya digambarkan sangat tangguh dalam memegang idealisme. Mereka gigih memperjuangkan reformasi dan menuntut Indonesia baru yang lebih manusiawi, Indonesia yang bebas berpendapat, bebas membaca, bebas berdiskusi, serta terbebas dari rezim otoriter. Mereka ingin melihat masyarakat sipil dan mahasiswa dapat berekspresi tanpa rasa takut akan represi aparat.


Hingga akhirnya, reformasi benar-benar terjadi. Soeharto turun dari jabatannya dan sistem pemerintahan Indonesia pun mengalami perubahan. Setelah 1998, Indonesia memasuki babak baru, mahasiswa lebih bebas berdiskusi, buku-buku kiri yang dulu dilarang bisa dibaca, dan pers lebih leluasa mengkritik pemerintah.


Namun, tragisnya, Laut dan kawan-kawannya tidak sempat menikmati Indonesia baru yang mereka perjuangkan. Gerakan mereka terendus aparat, dan selama tiga tahun mereka menjadi buruan hingga akhirnya ditangkap dan dihilangkan secara paksa. Hak asasi mereka dirampas sebelum cita-cita itu terwujud.


Kisah ini menjadi refleksi bagi kita. Jika pada masa Orde Baru mahasiswa harus berjuang keras hanya untuk bisa membaca dan berdiskusi, maka pada masa kini hambatan yang dihadapi justru berbeda yaitu rendahnya tingkat literasi masyarakat, khususnya mahasiswa.


Menurut laporan Times Indonesia, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpustakaan Nasional memang menunjukkan peningkatan, dari 64,40 pada tahun 2022 menjadi 73,52 pada tahun 2024. Namun, menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hanya 0,001% atau 1 dari 1.000 orang yang benar-benar gemar membaca aktif. Artinya, meskipun ada kemajuan, Indonesia tetap termasuk negara dengan minat literasi rendah di dunia.


Harapan Biru Laut dan kawan-kawan dalam memperjuangkan reformasi adalah agar masyarakat memiliki kebebasan, termasuk jaminan atas hak asasi manusia. Mereka ingin mahasiswa bebas berdiskusi secara aman, membaca berbagai buku, bahkan buku-buku yang dulu dianggap terlarang. Namun, ketika kesempatan itu kini sudah ada, tantangan baru justru muncul, bagaimana agar mahasiswa dan masyarakat benar-benar memanfaatkan kebebasan itu dengan meningkatkan budaya literasi.


Dengan begitu, novel Laut Bercerita tidak hanya mengisahkan tragedi politik dan perjuangan reformasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebebasan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata harus dijaga dengan kesadaran, salah satunya melalui peningkatan budaya membaca dan berdiskusi.


[Sahabati Lena Aprilia ]

Post a Comment

sahabat PMII wajib berkomentar untuk menunjang diskusi di dalam blogger

Lebih baru Lebih lama